Hari ini ada perbincangan antara aku dan Wulan. Perbincangan dimulai setelah Wulan melihat Mr.Buavita bercengkrama dengan seorang adik kelasnya Wulan yang bernama Shafira. Wulan berkata padaku bahwa ia tidak suka melihat perbincangan itu karena dia sebal dengan Shafira. Kemudian kutanya padanya apa yang membuat dia kesal terhadapnya. Ternyata tidak ada yang bisa dijelaskan oleh Wulan. Wulan hanya berkata bahwa Shafira menjengkelkan dan tidak menyenangkan namun tidak bisa digambarkan.
Kemudian aku teringat kembali cerita kakakku tentang permasalahan yang ada di kelompok kerjanya. Ada seorang anggota kelompok yang dianggap mengganggu dan menyebalkan oleh kakakku dan dua orang temannya yang lain. Permasalahan terus berkembang hingga akhirnya kakakku menyimpulkan dengan mutlak bahwa satu orang tersebut menjengkelkan dan kakakku tidak suka padanya. Selama mendengarkan kakakku bercerita, aku memutuskan untuk satu suara dengan kakakku. Walaupun sesungguhnya aku benar-benar tidak terbayang reaksi seperti apa yang akan muncul dari diriku.
Bagiku, bersikap itu memang sulit. Dahulu, aku pernah satu jemputan dengan seorang anak bernama Rahma. Ia tidak disukai oleh semua anak di jemputan itu. Entah karena anaknya jorok atau karena letak rumahnya yang sering kali membuat rumit rute jemputan kami. Pada awalnya aku mengikuti pola pikir anak lainnya, yaitu menjauhi dan memperolok Rahma. Lalu kemudian aku bertanya-tanya, apakah aku punya alasan untuk melakukan itu? Toh aku juga punya sisi jorok dan rumahku juga tidak terletak satu kawasan dengan anak lainnya. Kemudian kuputuskan untuk tidak memperoloknya lagi.
Pernah juga aku terlibat dalam perasaan membenci seseorang. Kemudian aku katakan ke beberapa teman dekatku bahwa aku tidak menyukai orang itu. Pada awalnya mereka bersikap satu suara denganku. Tapi dari situlah aku tahu seperti apa manusia itu sesungguhnya. Jika mereka bukan keluargaku, mereka tidak punya alasan untuk selalu sesuara denganku. Kemudian suatu hari keadaan berbalik. Aku lah yang menjadi orang yang dibenci. Aku ingat ketika aku masuk kelas, sekumpulan anak langsung berbisik-bisik dan melirik ke aku. Dari sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak akan pernah lagi membenci ataupun tidak menyukai siapapun.
Sejahat apapun orang terhadapku, aku tidak akan pernah membencinya. Tidak akan pernah aku ingin orang tersebut sengsara atupun tidak bahagia. Aku tetap ingin orang tersebut berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan aku juga mendapatkan aku yang inginka dengan jalan yang tak kupedulikan akan berpapasan denganku atau tidak. Tapi, apa alasan utamaku bersikap seperti ini?
Alasannya adalah karena aku tidak mau berpikir terlalu keras. Aku tidak mau memikirkan sikap apa yang pas untuk keperlihatkan di orang tertentu. Aku memperlakukan setiap orang dengan sama, semuanya kusenyumi jika bebanku sedang ringan, semuanya kuberikan senyum datar jika aku sedang banyak pikiran. Aku memang tidak tahu ada apa dari diri seseorang di depanku itu yang bisa membuat aku menyukainya atau tidak menyukainya. Jadi, semua orang kuperlakukan baik karena ketidaktahuanku.
Hmmm, jadi sesungguhnya aku ini bodoh karena tidak tahu sikap yang tepat untuk diperlihatkan ke orang lain, atau ini hanyalah sebuah kebaikan? Bagiku, apapun jawabannya, hal itu tidak akan menjadi masalah. Hal yang terpenting adalah aku bahagia dan aku merasa semua orang menerimaku dengan baik, insya Allah
Filed under: stories Tagged: | Bangga Indonesia
kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita






Waduh rumittttt. Ga bodoh sih. Malah kepinteran kali. Rilek…rilek… mbak. Nonton IMB aja. Ada Putri Ayu. Bener-bener bikin Bangga Indonesia
Hohoho, siap lah nonton Putri Ayu aja…
Ah tapi sayang hudson dah pulang, padahal dia unik lho…