Pergi ke DAAD di Gd.Summitmas bersama Bapak dan Mamah. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang keluarga Tante Rini. Dari obrolan itu, aku simpulkan seperti ini.
Selama Mamah kuliah di Matematika ITB, Tante Rinilah yang merawat Mamah. Saat Mamah kuliah, Tante Rini sudah dewasa dan mungkin sudah menikah dengan Om Bill. Sepanjang kuliah, Mamah menyaksikan perjuangan Tante Rini membangun keluarganya. Mulai dari memiliki rumah, mendadani rumah, dan perjuangan-perjuangan lainnya. Sekarang, ketika rumah itu hendak dijual, Mamah merasa memiliki pertanggungjawaban kepada Tante Rini. Ia benar-benar ingin bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan Tante Rini tentang rumah itu.
Mari kupaparkan seperti apa rumah Tante Rini. Tante Rini adalah seorang arsitek lulusan Arsitektur ITB. Rumahnya berawal dari rumah BTN yang seragam se-kompleks. Rumah BTN adalah rumah dengan konten 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tengah yang merupakan gabungan dari ruang tamu dan ruang keluarga, dan dapur yang termasuk ruang makan. Kemudian beberapa hal ditambahkan dan diganti. Tante Rini menambahkan ruang keluarga yang terpisah dengan ruang tamu, 2 kamar tidur yang bersambung dan dipisahkan pintu, 1 kamar mandi, ruang makan yang terpisah dengan dapur, dan kamar pembantu termasuk tempat cuci setrika baju. Kusen-kusen pintu dan jendela diganti menjadi kayu yang lebih bagus. Jendela juga diubah gayanya, termasuk gordennya. Lampu-lampu juga banyak yang penampilannya – menjadi lebih etnik. Itulah selera Tante Rini dan Om Bill.
Mamah adalah saksi atas segala hal yang dilakukan Tante Rini atas rumahnya. Lebih dari sebagai saksi, Mamah juga beraktivitas di rumah itu. Selama kuliah, Mamah sering makan di rumah itu, masak bersama Tante Rini di rumah itu, dan ngobrol-ngorol bersama keluarga Tante Rini. Lebih dari itu semua, di rumah itulah Mamah dan Bapak melaksanakan hal yang sakral bagi semua orang – menikah. Tamu-tamu undangan Mamah datang ke rumah itu menyelamati kedua orang tuaku. Foto-foto pernikahan mereka dilatarbelakangi rumah dengan pohon kamboja itu. Rumah pertama yang ditinggali kedua orang tuaku adalah rumah di sebelah rumah Tante Rini. Mereka mengontrak sampai akhirnya mereka membeli rumah di Jl. Biologi 19. Karena itulah butuh pemikiran sampai tuntas baginya untuk menjual rumah itu.
Bapakku berkata, apa yang dirasakan oleh Mamah adalah intangible - tidak dapat dinyatakan secara jelas. Tak dapat dipaparkan secara jelas penghormatan Mamah kepada rumah itu. Penghormatan yang didasari kenangan tentang Tante Rini. Baru pertama kali aku menyadari inilah yang namanya kasih sayang kakak beradik. Sedangkan pertimbangan pihak keluarga lainnya adalah tangible - berwujud. Rumah perlu dijual karena perlu uang.
Bagiku, tangible ataupun intangible, semoga rumah itu bermanfaat untuk keluarga yang ditinggalkan Tante Rini. Baik dalam bentuk rumah itu sendiri, 2 rumah kecil untuk anak-anaknya, ataupun uang.
Filed under: stories
kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita






Manfaat rumah baik yg tangible or intangible selalu bermakna dalam…ditelusuri dari relung2 qalbu setiap manusia…rumah berarti pulang..ke haribaan yang melenakan…nice blog…two thumbs up!
Terimakasih ya…