Ada yang tidak pernah jadi dewasa memang, hidup hanya dari pemberian seseorang atau masyarakatnya: orang-orang gila dan kriminil. Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan – si kriminil dan si gila itu – tidak pernah dewasa.
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer
Sebuah pohon kamboja berdiri dengan gagahnya di depan rumah tua itu. Cabang-cabangnya tumbuh menaungi atap, bunganya rontok satu per satu ke atas mobil yang parkir, diambil dan disematkan di telinga. Cabang-cabang kecilnya dipindahkan ke pot, dan segera tumbuh dan siap menjadi kamboja baru. Kamboja dan para kamboja baru itu tumbuh di pekarangan Bunga.
Usia Bunga kini sudah kepala enam. Usia Nabi Muhammad SAW saat meninggal. Bagi manusia biasa, itu terlalu muda untuk pensiun namun terlalu tua untuk menjadi tumpuan. Setiap melangkah keluar rumah, berpeganganlah dia pada batang kokoh si kamboja agar tak jatuh. Mata tak lagi bagus dan fisik tak lagi prima. Masuk ke mobil dan Bunga berangkat mengajar. Mengajar ratusan murid yang akan mengatakan, “Wow, kamu kenal dekat sama Bunga? Wow…!” Mengajar puluhan murid yang kelak menulis buku dengan prolog – Untuk Bunga yang telah menjadi inspirasi saya – atau sejenisnya. Mengajar belasan murid yang menebar kekaguman pada Bunga ke orang tua di rumah. Sehingga para orang tua sangat ingin bertemu Bunga.
Bunga adalah dosen, selayaknya dosen lainnya – mencintai ilmu dan haus akan ilmu. Buku-buku dari berbagai negara dengan konten pilihan bertumpuk di rumahnya. Dari empat orang yang sedarah daging dengannya, hanya ia yang membaca buku itu. Tak kepada satu pun dari penerus darahnya buku-buku itu akan berguna.
Juni 2010, Bunga sakit – serangan jantung. Sehebat apapun pikiran sang dosen, ketika sakit pelarian pertamanya sama – bagian gawat darurat rumah sakit. Dirawat dengan intensif, dijenguk, dikontrol dokter, dan didoakan. Kegiatan standar yang dilakukan untuk yang sakit. Namun, jika kegiatan standar itu dilakukan dengan tulus, Insya Allah dan semoga bermanfaat.
Manusia boleh berharap dan berusaha, tapi Allah berkata lain. Bunga meninggal dan semua terjadi dengan cepat. Tak ada yang menyangka, tak ada yang menduga. Pikiran terbelah antara merenungkan kematian mendadak ini dan persiapan-persiapan pemakaman. Entah ada berapa banyak hal lagi yang akan membelah pikiran ini. Berapapun yang datang, aku tidak siap memikirkan. Tanpa kupikir, apapun yang bisa kulakukan saat itu, kulakukan tanpa tanya.
Kini rumah berhiaskan kamboja itu menjadi topik harian – dijual atau tidak dijual. Dijual sayang, tidak dijual mahal. Tiap barang di dalam rumah itu terpekur membayangi nasibnya. Para buku membatin, “Hanya Bunga yang mengerti kami. Akan bagaimana nasib kami ini?” Pajangan-pajangan berceloteh, “Hanya Bunga yang tahu cara mengagumi kami. Kemana lagi kita akan bertamasya, akankah kembali ke toko?” Patung-patung ayam berkotek-kotek satu sama lain membicarakan nasib mereka.
Pada suatu hari, datanglah kolega-kolega Bunga. Entah terpanggil naluri kolega atau sekedar hasrat, dibawa pulanglah para buku. Buku-buku yang telah menjadi saksi bisu tentang proses pengajaran Bunga dan kesetiaan Bunga pada keilmuannya. Biarlah mereka menjalani kehidupan baru bersama orang baru, semoga mereka bermanfaat. Para pajangan dan patung ikut majikan baru – kerabat-kerabat keluarga itu. Lalu hal apa yang akan membuat sisa penghuni rumah mengingat Bunga? Bagaimana mungkin tidak ada kenangan tentang Bunga yang ingin mereka simpan?
Kini pohon kemboja telah kehilangan banyak daun. Menangisi orang-orang yang telah meninggalkan rumah itu. Sahabat, jika ada orang yang terkasih meniggalkanmu, selamatkanlah sesuatu. Suatu hal yang bisa memicu kenangan tentangnya. Agar terasa nyata bahwa orang itu pernah hidup dalam kisahmu.
Filed under: stories
kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita





