Bapakku selalu berpesan – sekolah yang benar karena apa-apa yang kamu pelajari adalah bekal buat kamu. Sejak itu, aku percaya bahwa ilmu adalah senjata yang kedua terampuh. Iman tentu saja senjata nomor wahid. Dimanapun aku berada, aku selalu berusaha mendapatkan ilmu. Saat mengantri membayar air di loket, kupelajari korelasi antara dandanan seseorang dan tagihan airnya.
Bagiku, setiap ilmu akan lebih baik jika dipelajari secara formal. Bukan otodidak. Agar dapat mengemudi, aku daftar sekolah mengemudi. Di saat itu, aku belajar tentang bahayanya lintasan kereta api.
Tunggulah sampai ada tempat untuk satu mobil setelah rel bila hendak menyebrang rel. Jika macet, jangan sampai kita terhenti di atas res. Selain mendengarkan kalau-kalau ada bunyi sirine, jangan lupa menengok kiri kanan.
Hari ini, aku handak melintasi perlintasan kereta api di Ciledug bersama bapakku. Tulit-tulit-tulit, palang turun dan kami memastikan diri berada di belakang palang. Lama menunggu, 2 kereta datang hampir beriringan. Palang dibuka dan kami maju. Sebelum memijak rel, bapakku memastikan ada tempat untuk satu mobil setelah rel. Tempat tersedia, kami pun maju. Tepat di atas rel, ada Angkatan Darat (AD) berdiri di tengah-tengah jalan. Pertama kupikir hendak mengatur lalu lintas. Tapi kok menghalangi ya berdirinya. Tiba-tiba ia menyetop mobilku. Memberi aba-aba untuk maju entah ke siapa. Dari arah berlawanan sana, datang mobil jenazah dan satu atau dua tronton. Rupanya, AD itu membukakan jalan untuk rombongannya. Sialan.
Tidakkah AD itu pernah belajar mengemudi? Tidakkah dia tahu bahayanya berhenti di atas rel? Kami turunkan jendela, meneriaki AD itu. “Pak, jangan di atas rel Pak, maju dikit lah!” “Ntar, masih jauh,” sahutnya. Brengsek. Apanya yang masih jauh? Keretanya atau rombongan dia? Memang tahu apa dia tentang jadwal kereta? Petugas perlintasankah dia?
Jika AD itu sudah tahu tentang bahaya-bahaya perlintasan, celakalah dia membahayakan aku dan bapakku. Jika AD itu belum tahu, ya semoga kebodohannya segera pergi, aamiin. Agar tak perlu lagi ada yang dihentikan di atas rel olehnya. ‘Persenjatai’lah semua AD dengan lebih banyak pengetahuan lagi. Supaya tak lagi jijik aku melihat mereka. ‘Senjata’ tak begitu banyak mereka tahu, tapi dipersenjatai.
Filed under: stories
kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita





