• tentangku

    28september1990

    nama lengkap: Rani Sasmita Tarmidi
    TTL: Bandung, 28 September 1990
    pendidikan saat ini: ITB '08, ProgramStudi Matematika
    bidang yang ditekuni: Matematika, Sastra Indonesia, Film, Musik, dan Olahraga
    e-mail: rani_tarmidi@yahoo.com atau ranitarmidi@yahoo.com
    YM: ranitarmidi
  • kategori² yang ada

  • kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita
    ©RaniTarmidi2009

  • post² terbaru

Hat..hat..sehat..

Keep an apple a day, keep the doctors away. Pernah mendengar semboyan tersebut? Baru-baru ini kakakku bertanya, apakah semboyan itu tetap berlaku jika apelnya dalam bentuk Apple Pie? Jawabannya tentu saja tidak. Apple Pie dapat memicu diabetes tentunya.

Berbicara tentang diabetes, mungkin Anda perlu tahu, berolahraga 10 menit setiap harinya mengurangi risiko terkena diabetes. Keren bukan?!?!?! Saya telah mencobanya. Hanya saja sayang hanya bertahan satu minggu. Ada apa dengan hari-hari berikutnya?

Setiap saya pulang berolahraga, anak kos saya memperolok saya. “Cie..olahraga pagiii.” Sebenarnya ada apa dengan pola pikir anak-anak kos di tempat saya? Kenapa mereka tidak bisa menganggap kegiatan olahraga pagi adalah kegiatan yang sangat wajar.

Namun inti dari ini semua adalah, sebaiknya Anda jangan meniru saya. Jika Anda meyakini kebaikan dari hal yang Anda lakukan. Lakukan sepenuh hati.

Akhirnya Saya Dapatkan Kembali Semangat Itu

Alhamdulillah saya ucapkan atas segal hal yang telah terjadi pada saya.

Pada semester lalu, saya terlalu banyak bermain-main. Saya senang untuk bermain, namun saya tidak senang akibatnya. Lalu saya menyalahkan tiga teman dekat saya secara tersirat. Menurut saya, karena merekalah saya jadi banyak kehabisan waktu. Mulai dari belajar bersama mereka yang menyita waktu, bermain futsal, bermain basket, bermain bulutangkis, dan berjalan-jalan. Akibatnya, pada semester ini, saya mengambil mata kuliah tanpa janji-janji dahulu dengan mereka. Lalu saya tidak banyak komunikasi dengan mereka.

Namun, ada suatu kejadian di masa lalu yang membuat saya berubah. Dahulu, kejadian yang sama pernah terjadi. Saya memiliki seorang teman dekat. Pertama-tama saya kesal dengan dia karena dia menghabiskan waktu saya. Tidak banyak kemauan saya yang terlaksana bersama dia, tepatnya kemauan untuk senang-senang. Lalu saya menjauh dan berteman dengan orang lain. Siapa sangka semua hal yang menyenangkan saya terjadi bersama dia. Namun… Ternyata itu semua salah. Akhirnya saya terjerumus dalam jurang yang paling gelap, hidup di antara kenyataan dan angan-angan. Kemudian saya hanya berpikir, andai dahulu saya tidak melepaskannya.

Sekarang, saya berada di sebuah keadaan di mana saya tengah melepaskan tiga sahabat terbaik. Kemudian saya tertegun dan memilih jalan berbeda. Saya memilih untuk berbicara dengan mereka tentang kesibukan saya. Saya meminta kepada mereka kalau belajar bersama jangan sampai malam-malam. Kemudian kalau mau membuat jadwal olahraga, dua kali saja seminggu. Selain itu, saya menjadi lebih sering membahas berbagai hal dengan mereka. Lebih sedikit hal yang saya simpan sendiri, lebih menyenangkan hubungan saya dengan mereka. Semoga perasaan dan suasana seperti ini bertahan selamanya bersama mereka, Wulan, Saras, dan Diana.

Bodoh atau Baik?

Hari ini ada perbincangan antara aku dan Wulan. Perbincangan dimulai setelah Wulan melihat Mr.Buavita bercengkrama dengan seorang adik kelasnya Wulan yang bernama Shafira. Wulan berkata padaku bahwa ia tidak suka melihat perbincangan itu karena dia sebal dengan Shafira. Kemudian kutanya padanya apa yang membuat dia kesal terhadapnya. Ternyata tidak ada yang bisa dijelaskan oleh Wulan. Wulan hanya berkata bahwa Shafira menjengkelkan dan tidak menyenangkan namun tidak bisa digambarkan.

Kemudian aku teringat kembali cerita kakakku tentang permasalahan yang ada di kelompok kerjanya. Ada seorang anggota kelompok yang dianggap mengganggu dan menyebalkan oleh kakakku dan dua orang temannya yang lain. Permasalahan terus berkembang hingga akhirnya kakakku menyimpulkan dengan mutlak bahwa satu orang tersebut menjengkelkan dan kakakku tidak suka padanya. Selama mendengarkan kakakku bercerita, aku memutuskan untuk satu suara dengan kakakku. Walaupun sesungguhnya aku benar-benar tidak terbayang reaksi seperti apa yang akan muncul dari diriku.

Bagiku, bersikap itu memang sulit. Dahulu, aku pernah satu jemputan dengan seorang anak bernama Rahma. Ia tidak disukai oleh semua anak di jemputan itu. Entah karena anaknya jorok atau karena letak rumahnya yang sering kali membuat rumit rute jemputan kami. Pada awalnya aku mengikuti pola pikir anak lainnya, yaitu menjauhi dan memperolok Rahma. Lalu kemudian aku bertanya-tanya, apakah aku punya alasan untuk melakukan itu? Toh aku juga punya sisi jorok dan rumahku juga tidak terletak satu kawasan dengan anak lainnya. Kemudian kuputuskan untuk tidak memperoloknya lagi.

Pernah juga aku terlibat dalam perasaan membenci seseorang. Kemudian aku katakan ke beberapa teman dekatku bahwa aku tidak menyukai orang itu. Pada awalnya mereka bersikap satu suara denganku. Tapi dari situlah aku tahu seperti apa manusia itu sesungguhnya. Jika mereka bukan keluargaku, mereka tidak punya alasan untuk selalu sesuara denganku. Kemudian suatu hari keadaan berbalik. Aku lah yang menjadi orang yang dibenci. Aku ingat ketika aku masuk kelas, sekumpulan anak langsung berbisik-bisik dan melirik ke aku. Dari sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak akan pernah lagi membenci ataupun tidak menyukai siapapun.

Sejahat apapun orang terhadapku, aku tidak akan pernah membencinya. Tidak akan pernah aku ingin orang tersebut sengsara atupun tidak bahagia. Aku tetap ingin orang tersebut berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dan aku juga mendapatkan aku yang inginka dengan jalan yang tak kupedulikan akan berpapasan denganku atau tidak. Tapi, apa alasan utamaku bersikap seperti ini?

Alasannya adalah karena aku tidak mau berpikir terlalu keras. Aku tidak mau memikirkan sikap apa yang pas untuk keperlihatkan di orang tertentu. Aku memperlakukan setiap orang dengan sama, semuanya kusenyumi jika bebanku sedang ringan, semuanya kuberikan senyum datar jika aku sedang banyak pikiran. Aku memang tidak tahu ada apa dari diri seseorang di depanku itu yang bisa membuat aku menyukainya atau tidak menyukainya. Jadi, semua orang kuperlakukan baik karena ketidaktahuanku.

Hmmm, jadi sesungguhnya aku ini bodoh karena tidak tahu sikap yang tepat untuk diperlihatkan ke orang lain, atau ini hanyalah sebuah kebaikan? Bagiku, apapun jawabannya, hal itu tidak akan menjadi masalah. Hal yang terpenting adalah aku bahagia dan aku merasa semua orang menerimaku dengan baik, insya Allah :)

Kenangan

Pada hari Selasa, 17 Agustus 2010 aku dan kakakku pergi ke toko buku Togamas. Ada sebuah buku berjudul I Love U Mom. Isinya adalah kisah beberapa anak tentang ibu mereka. Cerita yang pertama mengisahkan seorang anak yang sekarang hanya tinggal berdua dengan ibunya yang baru saja diamputasi kakinya. Ayahnya telah meninggal dunia. Dikisahkan bahwa ketika ayahnya masih ada, ia tidak terlalu dekat dengan ibunya. Ibunya memiliki suasana hati yang mudah berubah. Kemudian ayahnya selalu berada diantara ia dan ibunya. Sehingga ia tidak pernah menghadapi ibunya dalam segala jenis suasana hati.

Setelah ayahnya meninggal, ia baru sadar banyak hal yang belum ia katakan kepada ayahnya. Maka bersama ibunya, anak ini tidak ingin mengulangi hal yang sama. Karena ia telah menyadari tidak ada lagi masalah yang dapat diselesaikan di pemakaman. Segalanya hanya bisa diselesaikan selagi ibunya hidup. Maka, belajarlah ia pelan-pelan menghadapi segala suasana hati ibunya dan terbiasa dengan itu semua.

Ini adalah gambaran yang aku dapatkan setelah membaca beberapa halaman pertama. Bagian yang paling berkesan adalah pemaparan fakta bahwa tidak ada lagi masalah yang dapat diselesaikan di pemakaman.

Ketika kecil, aku pernah merasa sangat takut untuk membayangkan kematian seseorang yang aku kenal. Aku sering menangis sendiri jika membayangkan seseorang, siapapun, yang dahlulunya pernah berbicara denganku tidak dapat kutemui lagi di muka bumi ini.

Kemudian salah seorang sepupuku meninggal dunia karena demam berdarah. Saat kejadiannya, aku masih sangat kecil. Tidak ada yang kuingat tentang moment tersebut. Itulah pertama kalinya aku mendapati orang kuingat pernah berbicara denganku meninggal.

Hal berikutnya yang aku ingat adalah kematian kakak bapakku, Ua Dadang. Lebih banyak hal yang kuingat tentang kejadian ini. Pertama, rumah Ua Dadang adalah salah satu rumah yang hampir selalu kukunjungi ketika lebaran. Kemudian kami disuguhkan kue kismis yang selalu diletakkan di atas akuariun berisi ikan mas koki. Kematian Ua Dadang sangatlah cepat. Ia pingsan di pagi hari, lalu di hari yang sama dikabarkan telah meninggal. Aku pergi melayat dan melihat jenazahnya. Tidak banyak kesan yang timbul saat itu, yang terasa hanyalah kejadian tersebut terasa menyedihkan.

Kemudian kematian kakak ipar mamah, Om Bill. Saat itu aku sedang duduk di bangku SMA dan kakakku kuliah di Jatinangor. Kakakku lebih sering pulang ke Bandung daripada pulang ke Jakarta. Setiap ke Bandung, ia ke rumah Om Bill. Banyak hal tentang Om Bill yang diceirtakan oleh kakakku. Mulai gelar profesor, masalah mata, makanan kesukaan, masalah jantung, rokok, kopi, bacaan kesukaan, dan lain-lain. Seiring waktu berjalan, kemampuan mata Om Bill menurun. Lalu pernah suatu hari kakakku ingin menghadiahkan sebuah kaset untuk Om Bill. Kaset tersebut berisi rekaman kakakku membacakan novel berjudul The Life of Pi. Sebelum rekaman itu selesai, Om Bill meninggal di RS Boromeus. Kakakku dan ibuku ada di sampingnya saat itu. Pagi harinya, aku sempat menengok dan di saat itulah aku merasa sedih. Ketika jenazah dibawa ke rumah, aku sedih, namun tidak sesedih yang kurasakan ketika di RS pagi harinya.

Berikutnya kematian kakak bapakku, Ua Ceuceu. Ketika aku masih SMP, aku pernah berlibur ke rumah beliau di Kuningan. Aku sangat menyukai liburan saat itu. Kamudian lama waktu berselang, beliau dikabarkan sakit. Setelah sakit beberapa bulan, beliau meninggal. Aku dan keluargaku tidak bisa datang ke Kuningan. Tidak banyak hal yang kurasakan saat itu. Aku hanya merasakan satu hal, ayahku pasti sangatlah sedih.

Berikutnya kematian kakak ibuku, Tante Rini. Tante Rini adalah istrinya Om Bill. Dari semuanya, kematian Tante Rini adalah yang paling menggerayangi hatiku. Setelah berselang 40 hari lamanya, hatiku masih tetap merasakan sesuatu yang mengganjal. Sore harinya ketika Tante Rini meninggal, makanan yang diantar RS Advent kurang menarik. Lalu ia meminta dibelikan nasi padang. Aku tidak tahu boleh atau tidak, maka aku mengatakan “oh gitu, mau?” Kemudian Tante Rini menarik kembali permintaannya. Maka aku tidak membelikannya. Sepulang dari rumah sakit, aku berencana membeli kacang kedelai dan membuatkan susu untuknya esok pagi. Tapi karena lupa, kuputuskan untuk membeli kacang besok pagi, dan dibuat sore harinya. Setelah Tante Rini meninggal, bertubi-tubi pertanyaan menimpa hatiku. Jika aku pergi membelikan nasi padang akankah keadaan berbeda? Jika aku membelika kacang kedelai malam itu akankah keadaan berbeda? Jika aku datang lebih awal dan tinggal lebih lama di RS hari itu akankah keadaan berbeda? Jika ini…jika itu… dan jutaan jika lainnya datang tak berhenti dan tak berjawab. Terasa sekarang, tidak ada lagi yang bisa dilakukan saat ataupun setelah pemakaman.

Biarlah mereka semua menjadi kenangan yang menambah pengalaman hidupku.

Intangible dan Tangible

Pergi ke DAAD di Gd.Summitmas bersama Bapak dan Mamah. Sepanjang perjalanan, kami mengobrol tentang keluarga Tante Rini. Dari obrolan itu, aku simpulkan seperti ini.

Selama Mamah kuliah di Matematika ITB, Tante Rinilah yang merawat Mamah. Saat Mamah kuliah, Tante Rini sudah dewasa dan mungkin sudah menikah dengan Om Bill. Sepanjang kuliah, Mamah menyaksikan perjuangan Tante Rini membangun keluarganya. Mulai dari memiliki rumah, mendadani rumah, dan perjuangan-perjuangan lainnya. Sekarang, ketika rumah itu hendak dijual, Mamah merasa memiliki pertanggungjawaban kepada Tante Rini. Ia benar-benar ingin bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan Tante Rini tentang rumah itu.

Mari kupaparkan seperti apa rumah Tante Rini. Tante Rini adalah seorang arsitek lulusan Arsitektur ITB. Rumahnya berawal dari rumah BTN yang seragam se-kompleks. Rumah BTN adalah rumah dengan konten 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tengah yang merupakan gabungan dari ruang tamu dan ruang keluarga, dan dapur yang termasuk ruang makan. Kemudian beberapa hal ditambahkan dan diganti. Tante Rini menambahkan ruang keluarga yang terpisah dengan ruang tamu, 2 kamar tidur yang bersambung dan dipisahkan pintu, 1 kamar mandi, ruang makan yang terpisah dengan dapur, dan kamar pembantu termasuk tempat cuci setrika baju. Kusen-kusen pintu dan jendela diganti menjadi kayu yang lebih bagus. Jendela juga diubah gayanya, termasuk gordennya. Lampu-lampu juga banyak yang penampilannya – menjadi lebih etnik. Itulah selera Tante Rini dan Om Bill.

Mamah adalah saksi atas segala hal yang dilakukan Tante Rini atas rumahnya. Lebih dari sebagai saksi, Mamah juga beraktivitas di rumah itu. Selama kuliah, Mamah sering makan di rumah itu, masak bersama Tante Rini di rumah itu, dan ngobrol-ngorol bersama keluarga Tante Rini. Lebih dari itu semua, di rumah itulah Mamah dan Bapak melaksanakan hal yang sakral bagi semua orang – menikah. Tamu-tamu undangan Mamah datang ke rumah itu menyelamati kedua orang tuaku. Foto-foto pernikahan mereka dilatarbelakangi rumah dengan pohon kamboja itu. Rumah pertama yang ditinggali kedua orang tuaku adalah rumah di sebelah rumah Tante Rini. Mereka mengontrak sampai akhirnya mereka membeli rumah di Jl. Biologi 19. Karena itulah butuh pemikiran sampai tuntas baginya untuk menjual rumah itu.

Bapakku berkata, apa yang dirasakan oleh Mamah adalah intangible - tidak dapat dinyatakan secara jelas. Tak dapat dipaparkan secara jelas penghormatan Mamah kepada rumah itu. Penghormatan yang didasari kenangan tentang Tante Rini. Baru pertama kali aku menyadari inilah yang namanya kasih sayang kakak beradik. Sedangkan pertimbangan pihak keluarga lainnya adalah tangible - berwujud. Rumah perlu dijual karena perlu uang.

Bagiku, tangible ataupun intangible, semoga rumah itu bermanfaat untuk keluarga yang ditinggalkan Tante Rini. Baik dalam bentuk rumah itu sendiri, 2 rumah kecil untuk anak-anaknya, ataupun uang.

Bunga yang Menebar Benih, Namun Tak Berbekas di Tempatnya

Ada yang tidak pernah jadi dewasa memang, hidup hanya dari pemberian seseorang atau masyarakatnya: orang-orang gila dan kriminil. Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan – si kriminil dan si gila itu – tidak pernah dewasa.
Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Sebuah pohon kamboja berdiri dengan gagahnya di depan rumah tua itu. Cabang-cabangnya tumbuh menaungi atap, bunganya rontok satu per satu ke atas mobil yang parkir, diambil dan disematkan di telinga. Cabang-cabang kecilnya dipindahkan ke pot, dan segera tumbuh dan siap menjadi kamboja baru. Kamboja dan para kamboja baru itu tumbuh di pekarangan Bunga.

Usia Bunga kini sudah kepala enam. Usia Nabi Muhammad SAW saat meninggal. Bagi manusia biasa, itu terlalu muda untuk pensiun namun terlalu tua untuk menjadi tumpuan. Setiap melangkah keluar rumah, berpeganganlah dia pada batang kokoh si kamboja agar tak jatuh. Mata tak lagi bagus dan fisik tak lagi prima. Masuk ke mobil dan Bunga berangkat mengajar. Mengajar ratusan murid yang akan mengatakan, “Wow, kamu kenal dekat sama Bunga? Wow…!” Mengajar puluhan murid yang kelak menulis buku dengan prolog – Untuk Bunga yang telah menjadi inspirasi saya – atau sejenisnya. Mengajar belasan murid yang menebar kekaguman pada Bunga ke orang tua di rumah. Sehingga para orang tua sangat ingin bertemu Bunga.

Bunga adalah dosen, selayaknya dosen lainnya – mencintai ilmu dan haus akan ilmu. Buku-buku dari berbagai negara dengan konten pilihan bertumpuk di rumahnya. Dari empat orang yang sedarah daging dengannya, hanya ia yang membaca buku itu. Tak kepada satu pun dari penerus darahnya buku-buku itu akan berguna.

Juni 2010, Bunga sakit – serangan jantung. Sehebat apapun pikiran sang dosen, ketika sakit pelarian pertamanya sama – bagian gawat darurat rumah sakit. Dirawat dengan intensif, dijenguk, dikontrol dokter, dan didoakan. Kegiatan standar yang dilakukan untuk yang sakit. Namun, jika kegiatan standar itu dilakukan dengan tulus, Insya Allah dan semoga bermanfaat.

Manusia boleh berharap dan berusaha, tapi Allah berkata lain. Bunga meninggal dan semua terjadi dengan cepat. Tak ada yang menyangka, tak ada yang menduga. Pikiran terbelah antara merenungkan kematian mendadak ini dan persiapan-persiapan pemakaman. Entah ada berapa banyak hal lagi yang akan membelah pikiran ini. Berapapun yang datang, aku tidak siap memikirkan. Tanpa kupikir, apapun yang bisa kulakukan saat itu, kulakukan tanpa tanya.

Kini rumah berhiaskan kamboja itu menjadi topik harian – dijual atau tidak dijual. Dijual sayang, tidak dijual mahal. Tiap barang di dalam rumah itu terpekur membayangi nasibnya. Para buku membatin, “Hanya Bunga yang mengerti kami. Akan bagaimana nasib kami ini?” Pajangan-pajangan berceloteh, “Hanya Bunga yang tahu cara mengagumi kami. Kemana lagi kita akan bertamasya, akankah kembali ke toko?” Patung-patung ayam berkotek-kotek satu sama lain membicarakan nasib mereka.

Pada suatu hari, datanglah kolega-kolega Bunga. Entah terpanggil naluri kolega atau sekedar hasrat, dibawa pulanglah para buku. Buku-buku yang telah menjadi saksi bisu tentang proses pengajaran Bunga dan kesetiaan Bunga pada keilmuannya. Biarlah mereka menjalani kehidupan baru bersama orang baru, semoga mereka bermanfaat. Para pajangan dan patung ikut majikan baru – kerabat-kerabat keluarga itu. Lalu hal apa yang akan membuat sisa penghuni rumah mengingat Bunga? Bagaimana mungkin tidak ada kenangan tentang Bunga yang ingin mereka simpan?

Kini pohon kemboja telah kehilangan banyak daun. Menangisi orang-orang yang telah meninggalkan rumah itu. Sahabat, jika ada orang yang terkasih meniggalkanmu, selamatkanlah sesuatu. Suatu hal yang bisa memicu kenangan tentangnya. Agar terasa nyata bahwa orang itu pernah hidup dalam kisahmu.

Angkatan Bersenjata yang Tak ‘Dipersenjatai’

Bapakku selalu berpesan – sekolah yang benar karena apa-apa yang kamu pelajari adalah bekal buat kamu. Sejak itu, aku percaya bahwa ilmu adalah senjata yang kedua terampuh. Iman tentu saja senjata nomor wahid. Dimanapun aku berada, aku selalu berusaha mendapatkan ilmu. Saat mengantri membayar air di loket, kupelajari korelasi antara dandanan seseorang dan tagihan airnya.

Bagiku, setiap ilmu akan lebih baik jika dipelajari secara formal. Bukan otodidak. Agar dapat mengemudi, aku daftar sekolah mengemudi. Di saat itu, aku belajar tentang bahayanya lintasan kereta api.

Tunggulah sampai ada tempat untuk satu mobil setelah rel bila hendak menyebrang rel. Jika macet, jangan sampai kita terhenti di atas res. Selain mendengarkan kalau-kalau ada bunyi sirine, jangan lupa menengok kiri kanan.

Hari ini, aku handak melintasi perlintasan kereta api di Ciledug bersama bapakku. Tulit-tulit-tulit, palang turun dan kami memastikan diri berada di belakang palang. Lama menunggu, 2 kereta datang hampir beriringan. Palang dibuka dan kami maju. Sebelum memijak rel, bapakku memastikan ada tempat untuk satu mobil setelah rel. Tempat tersedia, kami pun maju. Tepat di atas rel, ada Angkatan Darat (AD) berdiri di tengah-tengah jalan. Pertama kupikir hendak mengatur lalu lintas. Tapi kok menghalangi ya berdirinya. Tiba-tiba ia menyetop mobilku. Memberi aba-aba untuk maju entah ke siapa. Dari arah berlawanan sana, datang mobil jenazah dan satu atau dua tronton. Rupanya, AD itu membukakan jalan untuk rombongannya. Sialan.

Tidakkah AD itu pernah belajar mengemudi? Tidakkah dia tahu bahayanya berhenti di atas rel? Kami turunkan jendela, meneriaki AD itu. “Pak, jangan di atas rel Pak, maju dikit lah!” “Ntar, masih jauh,” sahutnya. Brengsek. Apanya yang masih jauh? Keretanya atau rombongan dia? Memang tahu apa dia tentang jadwal kereta? Petugas perlintasankah dia?

Jika AD itu sudah tahu tentang bahaya-bahaya perlintasan, celakalah dia membahayakan aku dan bapakku. Jika AD itu belum tahu, ya semoga kebodohannya segera pergi, aamiin. Agar tak perlu lagi ada yang dihentikan di atas rel olehnya. ‘Persenjatai’lah semua AD dengan lebih banyak pengetahuan lagi. Supaya tak lagi jijik aku melihat mereka. ‘Senjata’ tak begitu banyak mereka tahu, tapi dipersenjatai.

Everybody’s Fine

Aku baru saja menonton film Everybody’s Fine. Sebuah film tentang Frank dan empat anaknya, Amy, Rossie, Robert, dan David. Sejak ibu mereka meninggal, keluarga tersebut tidak pernah lagi berkumpul. Suatu hari mereka memutuskan untuk membuat acara keluarga di rumah Frank. Namun tiba-tiba Robert, Amy, dan Rossie menelpon bahwa mereka tidak bisa datang. David tidak menelpon, tapi Rossie mengatakan bahwa David juga tidak bisa datang.

Frank menerima kenyataan bahwa keempat anaknya sibuk, maka ia memutuskan untuk mengunjungi mereka satu per satu. Pertama-tama ia mengunjungi David di New York. David tidak ada di apartemennya sehingga Frank tidak bertemu dengannya dan hanya meninggalkan surat di apartemennya. Kedua, ia mengunjungi Amy di Chicago dan ia bertemu dengan suami Amy, Jeff, dan anak mereka, Jack. Ia tidak dapat tinggal lama karena Amy banyak urusan di kantor, Jeff akan ke luar negri, dan Jack sudah kembali sekolah. Ketiga, ia mengunjungi Robert di Denver. Ia juga tidak lama di sana, bahkan tidak menginap karena Robert harus terbang ke Eropa pada sore harinya bersama tim orkesnya. Terakhir, Frank mengunjungi Rossie di Vegas. Ia menginap satu malam di apartemennya bersama seorang bayi, Max, yang dititipkan oleh temannya Rossie. Saat makan malam, Rossie mengatakan bahwa Frank terlalu menekan anak-anaknya. Ketiga anaknya bisa menerima semua tuntutan Frank dengan mudah, tapi tidak dengan David. Namun Frank berkata, “Jika bukan karena tuntutan-tuntutanku kepada kalian, kalian tidak akan seperti saat ini.”

Frank memutuskan pulang karena kehabisan obat untuk paru-parunya. Agar lebih cepat, ia memutuskan untuk naik pesawat walaupun dokter paru-parunya menyarankan agar ia tidak naik pesawat. Di dalam pesawat, 40 menit sebelum mendarat, Frank merasa panik dan pergi ke toilet. Ia merasa sesak dan saat itu ia membayangkan dirinya berbincang-bincang bersama keempat anaknya di halaman belakang rumahnya. Saat itu Frank berbicara dengan mereka berempat dan mendapatkan fakta-fakta tentang kehidiupan mereka. David ternyata sudah pindah dari New York namun tidak dapat memberi tahu di mana ia berada. Amy dan Jeff sudah berpisah selama 3 bulan dan Jack bukanlah anak pintar seperti yang sering diceritakan Amy. Robert tidak terbang ke Eropa sore itu juga kerena ia tidak bisa berada di dekat Frank selama ada hal tentang David yang ia rahasiakan. Kemudian Max adalah anaknya Rossie dan teman yang menitipkan bayi tersebut adalah kekasih Rossie.

Ketika sadar, Frank mendapati dirinya berada di rumah sakit dan dikelilingi oleh Amy, Rossie dan Robert. Kepada mereka, ia bertanya tentang keberadaan David. Akhirnya mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat datang ke acara keluarga karena belum ada kabar yang jelas tentang David. Setelah meninggalkan New York, David hidup berpetualang dan berita terakhir darinya adalah ia ada di Mexico. Setelah Frank meninggalkan rumah Amy, Amy tidak ke kantor, melainkan terbang ke Mexico mencari David. Kepolisian setempat menyampaikan kepadanya bahwa David telah meninggal dunia karena overdosis.

Frank merasa hancur dan gagal menjadi ayah. Di malam hari, ia memimpikan David. Di mimpi tersebut, David meminta maaf kepada Frank atas kegagalannya membuat ia bangga. Frank meyakinkan David bahwa itu bukan salahnya dan berbalik meminta maaf kepada David karena telah menuntut banyak dari dirinya. David pun mengatakan bahwa itu juga bukan salahnya.

Di akhir cerita, mereka semua merayakan natal bersama-sama, Robert, Amy, Rossie, dan yang lainnya. Amy datang hanya bersama Jack. Rossie datang bersama kekasihnya dan Max.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.