• tentangku

    28september1990

    nama lengkap: Rani Sasmita Tarmidi
    TTL: Bandung, 28 September 1990
    pendidikan saat ini: ITB '08, ProgramStudi Matematika
    bidang yang ditekuni: Matematika, Sastra, Film, dan Musik
    e-mail: rani_tarmidi@yahoo.com atau ranitarmidi@yahoo.com
    YM: ranitarmidi
  • kategori² yang ada

  • kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita
    ©RaniTarmidi2009

  • post² terbaru

Selalu Ada Kata Pertama

Pertama kali mendengar frasa ini, aku tidak menghiraukan. Menurutku, saat yang pertama itu memang pasti ada. Namun, kita tidak akan pernah merasa bahwa itulah saat yang pertama. Menurutku, aku bukanlah orang yang perasa. Aku tidak akan sibuk-sibuk memperhatikan bahwa kegiatan tersebut kulakukan untuk pertama kalinya.

Namun, hari ini aku telah merasakan apa yang dimaksud dengan pertama. Hari ini aku mengerjakan sebuah proposal untuk sebuah lomba karya tulis. Dalam kelompokku, aku adalah ketuanya. Baru kali ini aku merasakan kerja sama tim yang sesungguhnya. Memang, pada awalnya segalanya menyebalkan. Aku harus mengontak anggota-anggotaku terus-menerus. Namun, kini aku pun merasa bahwa sesungguhnya itulah tugas ketua, berpikir, memerintah, dan memberi umpan pada anggota. Inilah pertama kalinya dalam hidupku aku puas dengan kerja kelompok untuk sebuah lomba.

Awalnya, aku hampir putus asa dengan timku. Aku merasa mereka begitu acuh. Ditambah, ini pertama kalinya aku menghabiskan waktu yang cukup lama dengan teman-teman satu timku. Kupikir tim ini tidak akan pernah menemukan kata mufakat. Namun, inilah aku malam ini. Orang yang penuh rasa bahagia karena telah merasakan arti tim yang sesungguhnya untuk pertama kali.

Tidak Ada Kemutlakan

Setiap kesedihan akan hilang dengan membahagiakan. Setiap kebahagiaan akan pergi dengan kesedihan.

Dulu, ia pikir hal seperti itu memiliki kebenaran mutlak. Setiap hal yang menyedihkan pasti akan hilang dengan membahagiakan. Hal apa lagi yang dapat mengambil sebuah kesedihan selain kebahagiaan?

Kini ia sadar, ia salah. Kesedihan bisa saja pergi dengan menyakitkan. Ada hal lain yang lebih menyedihkan dari setiap kesedihan. Miris sekali bukan mendengarnya? Namun, ia masih percaya hidup itu indah.

Sudah 20 tahun lebih ia menjalani hidup. Baru kali ini ia mengerti apa yang dimaksud dengan my happiness counts too. Ia tidak pernah tahu hal spesifik apa yang dapat membuat ia bahagia. Namun, ia meyakini bahwa dengan membuat orang lain bahagia, ia akan bahagia dengan sendirinya.

Beberapa saat lalu, ia mengikuti kegiatan kegemaran teman akrabnya. Ia bermain basket dengan temannya. Ia memang senang berolah raga, namun ia tidak mengabdikan hidupnya untuk olah raga. Bermain basket tidak akan membuat dia bahagia. Namun, saat itu ia berbahagia karena temannya senang dia dapat ikut serta. Lagipula, ia memang anak yang memiliki kemampuan dan badan yang terlatih. Segala bidang olah raga dapat ia ikuti dengan mudah.

Cita-cita terbesarnya adalah memenangkan sebuah kejuaraan ilmiah. Demi mewujudkan impiannya, ia membutuhkan sebuah tim. Ketika ia tahu pendaftaran lomba dibuka, ia segera bertanya pada teman-temannya yang sering mengajaknya mengikuti kejuaraan olah raga. Tidak dalam hitungan menit, dua orang temannya menolak. Teman yang lainnya menolak setelah berpikir yang menurutnya hanya bentuk kepura-puraan.

Namun, langkah mengejar mimpi harus terus berlanjut! Ia mencari tim dengan orang-orang lain. Segalanya ia mulai dari awal dan penuh tekanan. Selain itu, ia kini menghadapi kesedihan penolakan dari teman-temannya hilang ditelan kesedihan meratapi kebimbangan. Beberapa hari yang lalu ia bertanya padaku, “Wajarkah jika aku menolak ajakan kejuaraan olah raga dari temanku karena ia menolak ajakanku?”

Jika aku berpikir menggunakan saraf refleks, menurutku itu sangat wajar. Namun, ketika aku berpikir lebih lama lagi, aku mendapatkan kesimpulan yang lain. Sesungguhnya, segala hal itu kembali ke cita-cita akhir kita. Hendak menjadi orang seperti apa kita kelak? Orang yang memiliki peraturan tak terbantahkan kah? Orang yang memiliki peraturan yang fleksibel kah?

Aku bercita-cita menjadi orang yang memiliki peraturan yang fleksibel. Aku tidak ingin mencampurkan keinginan membahagiakan orang lain dengan mimpi-mimpiku. Kedua hal tersebut adalah kedua hal yang harus bisa dipisahkan jalurnya. Jika ternyata dapat dijalankan satu jalur pun, itu adalah anugrah dari Allah.

Belajar Sejak Sekarang

Jangan pernah berkata, “Selagi saya muda.” Memang, yang mengatakan kita masih muda atau tidak adalah usia kita. Namun, itu bukanlah hal mutlak yang dapat dijadikan tolak ukur.

Ketika kita muda, kita beranggapan segalanya menjadi mudah. Mudah untuk mengubah segala keadaan yang ada. Mudah untuk jatuh cinta, mudah untuk membenci, mudah untuk merasa bahagia, mudah merasa sedih, dan lain-lain.

Saat muda, kita mudah merasa benci pada seseorang. Kemudian kita membatin, “Toh besok akan baikan.” Saat itu, kita begitu yakin hari esok akan tiba. Kita percaya bahwa batin kita masih kuat untuk berbaikan dengan orang yang kita benci. Selain itu, kepercayaan itu tidak salah. Memang, ketika kita muda, batin kita dapat kita tempa sekeras-kerasnya. Kita akan sanggup berbaikan dengan rival kita sekalipun.

Ketika kita sudah tua, mengubah keadaan menjadi lebih sulit. Jika kita terlanjur merasa benci pada seseorang, perasaan itu akan terus terbawa sampai di saat-saat kritis hidup. Tidak percaya, aku telah menjadi saksi tentang betapa sulitnya mengubah perasaan ketika kita tidak lagi muda.

Orang tua sering berpesan, “Belajar yang rajin selagi muda.” Jangan hanya belajar hal-hal yang jelas berguna untuk masa depan. Hal-hal tersebut misalnya akademik, olahraga, masak, melipat baju, bersih-bersih rumah, dan lain-lain. Ingatlah untuk belajar tidak pernah membenci. Ingatlah untuk selalu melihat keadaan dari sisi positifnya. Kalaupun sekarang ada benci di hati, segera belajar untuk menghilangkan dan menolaknya.

Jangan pernah bermain-main dengan rasa benci atau perasaan negatif apapun. Sekeras apapun kita berusaha menempa perasaan kita ketika sudah tua, hal itu hanya sia-sia belaka. Hati ini akan menjadi bebal, jangan menyangkal itu. Aku pun ingin tidak percaya bahwa hati ini akan menjadi bebal. Namun, aku pun telah menjadi saksi bahwa hati kita ketika tua sama persis dengan hati yang kita latih sejak sekarang.

Mungkin file ini dapat menambah keyakinan Anda tentang pentingnya belajar untuk tidak membenci sejak dini.

Tanyakan Padanya Apakah Ia Bahagia

Temanku memiliki seorang teman, sebutlah dengan K. Berikut cerita temanku tentang K.

Di mataku K adalah orang yang sempurna. Ia pintar, penuh semangat, cantik, dan lucu. Satu hal yang aneh tentangnya adalah, ia tidak pernah mengeluh. Sama sekali tidak pernah.

Sehinga suatu hari aku bertanya kepadanya, “K, kenapa sih lo gak pernah cerita-cerita kalau ada masalah?” K menjawab bahwa ia tidak mau berbagi masalahnya dengan orang lain. Ia merasa tidak ada alasan bagi teman-temannya untuk memikirkan masalah-masalahnya.

Pertama, ia awalnya berbagi masalah dengan ibunya. Ibunya berkata bahwa ia sempurna sehingga tidak ada hal yang perlu dikeluhkan tentang hidupnya. Kalau ia mengeluhkan hal tentang dirinya, artinya ia mengeluhkan orang tuanya. Kalau ia meras ia tidak sempurna, artinya ia mengatakan orang tuanya tidak sempurna. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi berniat membagi masalah kehidupan pada ibunya.

Ia mencoba berbagi dengan ayahnya. Langkah yang dilakukan oleh ayahnya sederhana. Ia bercerita pada istrinya tentang masalah anaknya. Kejadian selanjutnya sepertinya sudah dapat diduga. Ibunya akan berkata hal yang sama. Memang, tidak ada cara mengucapkan yang buruk. Ibunya mengucapkan dengan penuh kasih sayang. Hanya saja hatinya terlalu rapuh untuk dikatakan tidak seharusnya mengeluh.

K adalah anak tunggal, sehingga ia tidak memiliki kakak atau adik. Jika saja ia masih memiliki sedikit keberanian, ia mungkin akan bercerita dengan teman-temannya. Sayangnya, hatinya terlalu takut akan mendapat tanggapan yang sama.

Maka, inilah K yang sekarang. Tak pernah berniat mengeluh sedikitpun tentang hidupnya. Ia percaya segala kesusahan akan terselesaikan dan segala kesedihan akan terobati. Ia telah serahkan hidupnya pada Allah. Hal yang sangat ia ingin lakukan saat ini adalah tidak pernah membuat orang tuanya tidak merasa bangga. Ia tidak mau lagi orang tuanya mengira anaknya tidak menjadi seorang pemecah masalah.

K menutup ceritanya dengan satu kalimat yang sangat menyayat hati. “Tanyakan padaku apakah aku bahagia. Jawabannya tidak, aku tidak bahagia menjalani ini semua. Tetapi, aku bangga menjalani hiupku.”

Miris mendengarnya… Seseorang yang dianggap hebat oleh teman-temannya tidak bisa menganggap dirinya hebat. Mungkin memang jangan terlalu banyak merasa dalam hidup ini. Merasa ada masalah, merasa kesal, merasa sedih, dan lain-lain. Jalani hidup ini dengan baik dan sesuai aturan. Renungkan setiap teguran yang kita dapat, lalu jalani hidup dengan aturan yang baru.

Retired

I’m done making up a poetry
I’m done lighting up my life with comparation

Nothing more need to be compared
My life is what it is

There isn’t any word can describe it
There isn’t anything can represent it

Life is the only word can describe my life
A person named Rani is the only living thing can represent it

This is the last poetry of mine…

Dhee

Quote of the post: The best things in life are nearest: Breath in your nostrils, light in your eyes, flowers at your feet, duties at your hand, the path of right just before you. Then do not grasp at the stars, but do life’s plain, common work as it comes, certain that daily duties and daily bread are the sweetest things in life. (Robert Louis Stevenson)

Satu kata yang bisa kukatakan tentang Dheee adalah sompral. Aku tidak yakin sompral adalah bahasa Indonesia. Namun, di kalangan aku dan teman-temanku, kata tersebut sering digunakan. Sompral memiliki makna banyak omong.

Ia adalah teman belajarku. Namun, sampai detik ini aku masih bingung. Selama ini kami belajar bersama atau aku yang mengajari mereka? Tapi bukan itu yang akan kuceritakan di sini. Pelajaran yang kurasakan paling berat adalah Analisis Data. Dheee cukup sering berkata bahwa ia sudah bisa dan paham. Namun, ketika aku bertanya padanya, ia tidak dapat menjawabnya dengan sigap. Pernah aku menyindirnya tertang hal ini. Aku berkata padanya bahwa salah satu dosen tidak suka dengan anak yang mengatakan mengerti namun tidak dapat menjelaskan. Menurut dosen tersebut, mengerti adalah dapat menjelaskan ke orang lain. Aku memang tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya ketika aku sindir seperti itu. Namun, sindiran itu tidak mengubah sikapnya.

Walaupun sompral, ia juga memiliki kebaikan tentunya. Ia sering memberi tumpangan kepadaku. Hampir tiap hari aku menumpang di mobilnya untuk berangkat ke kampus. Kadang jika aku terlambat bangun, ia tetap mau menunggku. Selain mau menunggu, kadang ia menjemputku ke depan rumahku.

Hal lain yang cukup terasa signifinifikan olehku adalah Dhee sering mengulang-ulang cerita yang sudah pernah ia ceritakan. Sebagai pendengar, kadang aku merasa bosan mendengar cerita-ceritanya. Terutama cerita yang menggunjing orang. Memang kami sering bergosip bersama, namun aku tidak suka kalau mengulang-ualng gosip. Kenapa? Karena aku tidak mau gosip tersebut tertanam di hapalanku. Namun, banyak pula cerita-ceritanya yang lucu sehingga menarik untuk diulang-ulang.

Cerita yang paling aku tidak suka adalah ketika ia menceritakan bahwa ia dimarahi oleh seorang ketua panitia dalam salah satu kepanitiaan yang kami ikuti bersama. Aku mengerti kekesalannya pada panitia itu. Memang, tidak semestinya ia dimarahi dan ketua panitia itu salah. Namun, apakan pantas kita terus-menerus membicarakan kesalahan orang sementara orang tersebut telah meminta maaf? Sesungguhnya aku sadar bahwa ia tidak menceritakannya dengan hati, atau maksudnya ia tidak benar-benar membenci ketua panitia itu sepenuh hatinya. Tapi, aku hanya tidak suka ia terus-menerus menceritakan cerita yang bisa saja membuat orang beranggapan bahwa ketua panitia itu menyebalkan.

Namun, dari sekian banyak teman-temanku, ia adalah satu dari sedikit orang yang sadar bila aku sedang merasa marah. Pada suatu hari, kelasku sedang diskusi kelompok pelajaran Matematika Diskrit. Menurut dosennya, kami dilarang berdiskusi dengan kolompok lain. Namun, ketika dosennya pergi meninggalkan kelas, beberapa anak ribut berdiskusi dengan kolompok lain. Hal ini membuat aku merasa kesal dan Dheee menyadarinya.

Sahabat-sahabat seperti Dheee inilah yang membuat aku tetap sadar diri. Sadar bahwa sebagai manusia, aku juga memiliki kebaikan di sela-sela keburukanku dan juga memiliki keburukan di sela-sela kebaikanku.

Keragaman dan Kesopanan

Aku memiliki memiliki beberapa teman di kampus. Kami datang dari daerah yang berbeda-beda, bahkan dari pulau yang berbeda. Ada yang datang dari Medan, Bontang, Jakarta, Purwokerto, Kendal, Cirebon, Kebumen, Temanggung, dan lain-lain.

Pada awalnya, kendala yang kami hadapi adalah logat. Logat kami sangatlah kentara perbedaannya. Awalnya kami saling mengomentari logat masing-masing dan hal itu bukan masalah bagi kami semua termasuk aku. Namun, lama-lama aku merasa risih bila ada orang mengomentari logat. Aku jadi merasa kami membedakan orang berdasar suku. Cukup lama aku merasakan hal ini. Bahkan aku sempat merasa menyesal berteman akrab dengan orang-orang dari luar daerah.

Setelah beberapa bulan lamanya aku merasa seperti itu, aku pun tersadar. Ada begitu banyak suku di Indonesia, tepatnya sangat banyak lebih kurang 230 suku. Kalau kita berpikir cepat, kita akan mengatakan membedakan orang berdasar suku adalah tidak baik. Cobalah untuk berpikiran lebih terbuka, lihat dari sudut yang lain.

Membedakan orang berdasar suku, bisa saja bertujuan mengamati tiap suku secara mendalam dan mencatatnya di sebuah buku. Buku tentang keragaman suku di Indonesia. Buku yang akan membuat semua orang Indonesia bangga menjadi orang Indonesia. Tidak ada orang yang bisa membuat tulisan tanpa melakukan observasi, tulisan bentuk apapun. Kalau memang teman-temanku membedakan orang berdasar sukunya, aku mendoakan mereka kelak akan menulis sebuah atau beberapa buah buku. Aku akan bangga karena aku menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kalian lihat sendiri, dengan memandang ketidaksenangan dari sudut yang lain, kalian akan menemukan hal yang indah.

Masalah tidak hanya satu, itulah hidup. Masalah lain pun datang menerpa aku dan sahabat-sahabatku. Kali ini, ada gunjingan di antara kami. Ada seseorang yang menyukai seseorang di antara kami dan yang disuka telah memiliki pasangan. Hal ini sama sekali tidak pernah kami singgung secara terang-terangan. Ketika mengetahuinya, kupikir aku akan menanggapi hal seperti ini biasa saja dan akan tetap menjadi aku yang ceplas-ceplos ketika berbicara.

Aku adalah orang yang berpikir bahwa tidak ada masalah-masalah kehidupan yang perlu ditutupi. Jadi, mudah bagiku untuk memberitahukan masalah ke perkumpulan yang tepat dan mencari masalah solusinya. Namun, dalam masalah kali ini, aku tidak merasa semudah itu untuk membicarakan masalah ini. Aku merasa takut jika membicarkan masalah ini, kedua orang yang menjadi sentral cerita akan bermusuhan. Entah karena rasa takutku atau memang, permasalahan ini menimbulkan sedikit keganjilan di antara kami.

Ada pepatah yang mengatakan diam adalah emas. Hal tersebut tidak berlaku kali ini. Diam kami membuat beberapa di antara kami bertanya-tanya apa yang tengah terjadi. Akhirnya aku membuka kartu itu. Aku merasa hidupku lebih baik dan aku meyakini kehidupan teman-temanku juga menjadi lebih baik. Aku percaya bahwa sesungguhnya kami sudah cukup dewasa menyikapi masalah-masalah seperti ini. Kalau dipikir-pikir, satu-satunya alasan kami tidak membuka masalah ini adalah kesopanan kami kepada kedua teman kami.

Itulah hal yang membuat aku bangga menjadi Bangsa Indonesia. Kami beragam namun kami sanggup untuk saling menghargai. Walaupun ditemukan beberapa kendala dalam proses saling menghargai tersebut. Kami menjadikan kesopanan di atas segala-galanya sekalipun kesopanan tersebut menimbulkan sedikit percikan api. Percikan api membuat kami tanggap bagaimana caranya memadamkan api yang masih kecil dengan cepat.

Diikutsertakan pada Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC

Keamanan Bersepeda

Kemarin siang, temanku mengalami kecelakaan sepeda. Tiang sadel sepeda yang ia naiki patah ketika ia sedang mengendarainya. Sadel sepeda adalah tempat duduk di sepeda. Jadi, bisa kalian bayangkan, tempat kita duduk selama bersepeda tiba-tiba jatuh?


Seat post adalah tiang yang patah

Dari cerita yang kutangkap darinya, saat kejadian itu terjadi, ia sedang bersepeda di jalanan yang menurun di depan Hotel Royal Dago, Bandung. Berikut kronologis yang berhasil kutangkap:
Ketika sedang bersepeda, seat post-nya tiba-tiba patah dan ia terjatuh ke arah belakang sepeda. Karena jalannya menurun, sepeda itu masih melaju. Jadi, dengan kedua kaki menapak di bawah, kedua tangan masih memegang sepeda dan berusaha mengerem, ia berlari mengikuti laju sepeda. Sepedanya berjalan sedikit terlompat-lompat akibat rem yang begitu mendadak di jalan yang menurun. Selama sepedanya terlompat-lompat, perut temanku terantuk dengan tiang sisa patahan seat post yang masih menempel di sepeda.

Akibat dari kecelakaan ini adalah sebuah luka berbentuk lingkaran di perut temanku. Menurut temanku yang lainnya, ia beruntung karena sisa patahannya berbentuk lingkarang utuh. Jika sisa patahannya berbentuk seperti tombak, luka di perutnya akan menjadi sangat parah.

Pertanyaan yang akan dibahas di sini adalah “Kenapa tiang tersebut bisa patah?”

Jawabannya adalah karena tiang tersebut begitu tipis. Menurut kakakku yang melihat patahannya, tiang itu bak terbuat dari alumunium tiang jemuran. Jelas sudah bahwa tiang setipis itu pasti tidak akan kuat untuk dinaiki oleh temanku. Lagipula tiang tipis itu memang berbahaya dinaiki siapapun .

Berikut akan kupaparkan apa saja yang perlu kalian perhatikan sebelum memilih onderdil sepeda dan mengendarai sepeda :-) .

Dalam memilih seat post, pilih seat post yang panjang jika kita ingin memiliki sepeda bersadel tinggi. Selalu pastikan panjang seat post yang tertanam di dalam sepeda ada di batas aman. Jangan pernah memposisikan sadel terlalu tinggi sehingga seat post yang tertanam di dalam sepeda sangat pendek. Jangan pernah menyambung seat post karena seat post adalah tumpuan seluruh beban kita selama bersepeda. Pilih seat post yang memiliki ketebalan standar. Kalau terlalu tipis, kejadian di atas dapat terjadi pada Anda. Kalau terlalu tebal, sepeda menjadi terlalu berat.

Pilih stang sepeda yang lebar-sempitnya sesuai dengan ukuran tubuh kita. Jangan terlalu lebar karena sepeda menjadi kurang lincah, jangan pula terlalu sempit karena mengurangi kestabilan sepeda. Sebelum bersepeda, pastikan baut-baut pada stang terpasang kencang. Pernah ada kejadian, seorang anak hendak membuat sepedanya berjalan hanya pada roda belakang, ia mengangkat stang sepedanya. Karena ada baut yang tidak terpasang dengan kencang, ketika ia menhentakkan stang sepedanya ke atas, stang tersebut lepas dan ia terjatuh.

Pesan terakhir, selalu periksa semua baut, rem, dan rantai sebelum bersepeda. Selamat bersepeda :p.