Aku memiliki memiliki beberapa teman di kampus. Kami datang dari daerah yang berbeda-beda, bahkan dari pulau yang berbeda. Ada yang datang dari Medan, Bontang, Jakarta, Purwokerto, Kendal, Cirebon, Kebumen, Temanggung, dan lain-lain.
Pada awalnya, kendala yang kami hadapi adalah logat. Logat kami sangatlah kentara perbedaannya. Awalnya kami saling mengomentari logat masing-masing dan hal itu bukan masalah bagi kami semua termasuk aku. Namun, lama-lama aku merasa risih bila ada orang mengomentari logat. Aku jadi merasa kami membedakan orang berdasar suku. Cukup lama aku merasakan hal ini. Bahkan aku sempat merasa menyesal berteman akrab dengan orang-orang dari luar daerah.
Setelah beberapa bulan lamanya aku merasa seperti itu, aku pun tersadar. Ada begitu banyak suku di Indonesia, tepatnya sangat banyak lebih kurang 230 suku. Kalau kita berpikir cepat, kita akan mengatakan membedakan orang berdasar suku adalah tidak baik. Cobalah untuk berpikiran lebih terbuka, lihat dari sudut yang lain.
Membedakan orang berdasar suku, bisa saja bertujuan mengamati tiap suku secara mendalam dan mencatatnya di sebuah buku. Buku tentang keragaman suku di Indonesia. Buku yang akan membuat semua orang Indonesia bangga menjadi orang Indonesia. Tidak ada orang yang bisa membuat tulisan tanpa melakukan observasi, tulisan bentuk apapun. Kalau memang teman-temanku membedakan orang berdasar sukunya, aku mendoakan mereka kelak akan menulis sebuah atau beberapa buah buku. Aku akan bangga karena aku menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Kalian lihat sendiri, dengan memandang ketidaksenangan dari sudut yang lain, kalian akan menemukan hal yang indah.
Masalah tidak hanya satu, itulah hidup. Masalah lain pun datang menerpa aku dan sahabat-sahabatku. Kali ini, ada gunjingan di antara kami. Ada seseorang yang menyukai seseorang di antara kami dan yang disuka telah memiliki pasangan. Hal ini sama sekali tidak pernah kami singgung secara terang-terangan. Ketika mengetahuinya, kupikir aku akan menanggapi hal seperti ini biasa saja dan akan tetap menjadi aku yang ceplas-ceplos ketika berbicara.
Aku adalah orang yang berpikir bahwa tidak ada masalah-masalah kehidupan yang perlu ditutupi. Jadi, mudah bagiku untuk memberitahukan masalah ke perkumpulan yang tepat dan mencari masalah solusinya. Namun, dalam masalah kali ini, aku tidak merasa semudah itu untuk membicarakan masalah ini. Aku merasa takut jika membicarkan masalah ini, kedua orang yang menjadi sentral cerita akan bermusuhan. Entah karena rasa takutku atau memang, permasalahan ini menimbulkan sedikit keganjilan di antara kami.
Ada pepatah yang mengatakan diam adalah emas. Hal tersebut tidak berlaku kali ini. Diam kami membuat beberapa di antara kami bertanya-tanya apa yang tengah terjadi. Akhirnya aku membuka kartu itu. Aku merasa hidupku lebih baik dan aku meyakini kehidupan teman-temanku juga menjadi lebih baik. Aku percaya bahwa sesungguhnya kami sudah cukup dewasa menyikapi masalah-masalah seperti ini. Kalau dipikir-pikir, satu-satunya alasan kami tidak membuka masalah ini adalah kesopanan kami kepada kedua teman kami.
Itulah hal yang membuat aku bangga menjadi Bangsa Indonesia. Kami beragam namun kami sanggup untuk saling menghargai. Walaupun ditemukan beberapa kendala dalam proses saling menghargai tersebut. Kami menjadikan kesopanan di atas segala-galanya sekalipun kesopanan tersebut menimbulkan sedikit percikan api. Percikan api membuat kami tanggap bagaimana caranya memadamkan api yang masih kecil dengan cepat.
Diikutsertakan pada Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC