• tentangku

    28september1990

    nama lengkap: Rani Sasmita Tarmidi
    TTL: Bandung, 28 September 1990
    pendidikan saat ini: ITB '08, ProgramStudi Matematika
    bidang yang ditekuni: Matematika, Sastra, Film, dan Musik
    e-mail: rani_tarmidi@yahoo.com atau ranitarmidi@yahoo.com
    YM: ranitarmidi
  • kategori² yang ada

  • kepingan-kepingan yang lengkap akan menjadi sebuah cerita
    ©RaniTarmidi2009

  • post² terbaru

Keamanan Bersepeda

Kemarin siang, temanku mengalami kecelakaan sepeda. Tiang sadel sepeda yang ia naiki patah ketika ia sedang mengendarainya. Sadel sepeda adalah tempat duduk di sepeda. Jadi, bisa kalian bayangkan, tempat kita duduk selama bersepeda tiba-tiba jatuh?


Seat post adalah tiang yang patah

Dari cerita yang kutangkap darinya, saat kejadian itu terjadi, ia sedang bersepeda di jalanan yang menurun di depan Hotel Royal Dago, Bandung. Berikut kronologis yang berhasil kutangkap:
Ketika sedang bersepeda, seat post-nya tiba-tiba patah dan ia terjatuh ke arah belakang sepeda. Karena jalannya menurun, sepeda itu masih melaju. Jadi, dengan kedua kaki menapak di bawah, kedua tangan masih memegang sepeda dan berusaha mengerem, ia berlari mengikuti laju sepeda. Sepedanya berjalan sedikit terlompat-lompat akibat rem yang begitu mendadak di jalan yang menurun. Selama sepedanya terlompat-lompat, perut temanku terantuk dengan tiang sisa patahan seat post yang masih menempel di sepeda.

Akibat dari kecelakaan ini adalah sebuah luka berbentuk lingkaran di perut temanku. Menurut temanku yang lainnya, ia beruntung karena sisa patahannya berbentuk lingkarang utuh. Jika sisa patahannya berbentuk seperti tombak, luka di perutnya akan menjadi sangat parah.

Pertanyaan yang akan dibahas di sini adalah “Kenapa tiang tersebut bisa patah?”

Jawabannya adalah karena tiang tersebut begitu tipis. Menurut kakakku yang melihat patahannya, tiang itu bak terbuat dari alumunium tiang jemuran. Jelas sudah bahwa tiang setipis itu pasti tidak akan kuat untuk dinaiki oleh temanku. Lagipula tiang tipis itu memang berbahaya dinaiki siapapun .

Berikut akan kupaparkan apa saja yang perlu kalian perhatikan sebelum memilih onderdil sepeda dan mengendarai sepeda :-) .

Dalam memilih seat post, pilih seat post yang panjang jika kita ingin memiliki sepeda bersadel tinggi. Selalu pastikan panjang seat post yang tertanam di dalam sepeda ada di batas aman. Jangan pernah memposisikan sadel terlalu tinggi sehingga seat post yang tertanam di dalam sepeda sangat pendek. Jangan pernah menyambung seat post karena seat post adalah tumpuan seluruh beban kita selama bersepeda. Pilih seat post yang memiliki ketebalan standar. Kalau terlalu tipis, kejadian di atas dapat terjadi pada Anda. Kalau terlalu tebal, sepeda menjadi terlalu berat.

Pilih stang sepeda yang lebar-sempitnya sesuai dengan ukuran tubuh kita. Jangan terlalu lebar karena sepeda menjadi kurang lincah, jangan pula terlalu sempit karena mengurangi kestabilan sepeda. Sebelum bersepeda, pastikan baut-baut pada stang terpasang kencang. Pernah ada kejadian, seorang anak hendak membuat sepedanya berjalan hanya pada roda belakang, ia mengangkat stang sepedanya. Karena ada baut yang tidak terpasang dengan kencang, ketika ia menhentakkan stang sepedanya ke atas, stang tersebut lepas dan ia terjatuh.

Pesan terakhir, selalu periksa semua baut, rem, dan rantai sebelum bersepeda. Selamat bersepeda :p.

Salju Menyambut Natal dan Tahun Baru

Adakah diantara kalian yang belum menyadari bahwa WordPress (WP) sekarang memberikan efek salju pada halamannya???

Menarik bukan???

Layanan ini dibuat dalam rangka menyambut liburan natal dan tahun baru. Langkah-langkah untuk membuat salju bertebaran di blog kita.

♣ Masuk ke dashboard blog kita
♣ Pilih menu appearance
♣ Pilih submenu extras
♣ Beri tanda centrang pada pilihan tampilkan salju

Salju hanya ada selama periode liburan. Jadi, setelah liburan berakhir, salju-salju tersebut akan hilang dengan sendirinya dan akan muncul lagi di blogmu pada liburan tahun depan selama pengaturannya tidak diubah. Salju-salju ini sudah ada di WP sejak dua tahun yang lalu. Jadi, kalau kita sudah pernah melakukan setting di atas tahun lalu, maka setting itu masih tersimpan.

23 Tahun Hidupmu

Kamu Koko, aku Crunch
Lalu kita berdiri berhadapan di jalanan depan rumah kita di Flamboyan
Raket terayun kencang, lalu kok tersangkut di pohon lengkeng bersejarah itu
Kita bukan yang ahli di bidang itu, tapi kita berusaha untuk bersenang-senang bersama

Aku Galileo, kamu Galilei
Aku ambil gelas ukur itu
Kupandang tiap milimeter air yang kutuang
Arrghh, lama dan membosankan

Kamu In, aku Out
Mari buat cerita sendiri untuk yang satu ini
Kamu In: Kamu yang masuk duluan, aku Out: Aku yang keluar duluan

Huff, adikmu ini memang tidak pernah berpikiran dewasa

Aku tak suka kau lebih lama bersama mereka daripada bersamaku
Tapi aku sadar…
kelak kau akan pergi tanpaku
kelak aku harus sanggup tanpamu
kelak kita harus tinggal di bawah dua atap yang berbeda

Namun, apapun yang kita jalani di kehidupan masing-masing, aku bersamamu sepanjang jalanmu
Jalanku cukup luas untuk kita tapaki bersama jika kau mau
Kalaupun kau tak mau, jalanku tak berpagar sehingga aku tetap bisa menyaksikanmu di jalanmu dari jalanku

23 tahun hidupmu
kuharap tak ada yang kau sesali
kuharap tak ada yang membuatmu kecewa teramat-sangat
kuharap tak ada kesedihan yang mengiringi

Di tahun ini pula kuakhiri semua usia berbentuk 1_ yang kumiliki
Berakhir sudah semua masa kanak-kanak kita
Tak ada lagi alasan untuk menangisi ketidaksanggupan kita menjalani hidup
Sudah saatnya kita berdiri dan yakin bahwa kita sanggup

Fakta: 23 adalah sebuah bilangan prima dua digit pertama yang penjumlahan kedua digitnya juga merupakan bilangan prima

Seperti Apakah Dirimu?

Ada sebuah hal yang timbul dalam pikiranku setelah sebuah kejadian di tanggal 2 Desember 2009. Di tanggal tersebut kelas kuliahku yang pertama adalah kelas Aljabar Linear Elementer A.

Hal yang mengganjal diriku saat itu adalah “Apakah seisi kelas tidak ada yang mengerti?” Pertanyaan ini sama sekali tidak mengandung arti aku mengerti dan paham akan pelajaran tersebut. Di detik aku bertanya hal tersebut, aku juga belum mendapat pemahaman apapun tentang apa yang sedang dibicarakan di kelas tersebut. Namun, aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan kecil dari dosennya. Aku tidak selalu benar, ada jawabanku yang salah telak dan memalukan. Namun, aku percaya, itulah yang namanya belajar.

Aku memiliki seorang kakak yang mengambil pendidikan kedokteran. Ia sering bercerita tentang cara ia dan teman-temannya belajar di kampus. Dari yang ia ceritakan, aku menarik sebuah kesimpulan. Cara belajar mereka adalah menuntut murid untuk berani dan percaya diri untuk bicara. Hal ini memang harus dilakukan oleh tiap peserta didik karena ada kalanya mereka menjelaskan kepada teman-temannya dengan dosen hanya sebagai pengwas.

Beberapa hari lalu, temanku bercerita tentang dosennya yang meninggalkan kelas karena tidak ada murid yang menjawab pertanyaan beliau. Hal ini membuat aku kembali teringat tentang kehidupan di sekolah kedokteran.

Sekarang hal tersebut terjadi di kelasku. Ketika dosen mengajukan pertanyaan pancingan, tidak ada murid yang menjawab. Namun, aku yakin mereka bukan tidak mengerti. Tapi entah apa alasan mereka untuk tidak menjawab. Ada temanku yang beralasan malu untuk menjawab. Lewat tulisan ini, aku hanya ingin berpesan. Tidak perlu malu kalau salah menjawab pertanyaan. Kita tidak akan pernah belajar kalau tidak pernah salah, sebuah kata-kata bijak dari seorang temanku. Namun, walaupun demikian, berpikirlah dahulu sebelum menjawab. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda adalah tipe yang akan selalu berusaha menjawab pertanyaan pancingan dari dosen?

Jika ingin tahu tipe kelas seperti apa yang aku sukai, tontonlah salah satu episode film serial HOUSE MD. Pengajar dan pelajar seperti itulah yang aku inginkan berada di kelasku. Namun, aku akan tetap bersyukur akan segala hal yang aku miliki saat ini.

Antara Benar dan Salah

Beberapa hari lalu, aku mendengarkan percakapan kedua temanku. Sebutlah mereka A dan B.
A: “Nanti kalau nikah undang-undang yaaa.”>>>Entah kenapa kalimat ini memang sedang ramai di kalangan teman-temanku.
B: “Ya liat nanti lahhh.”>>>Biasanya orang lain hanya menjawab “Iya..iya..pasti lucu dehhh.” Mungkin A merasa kaget mendengar jawaban yang berbeda dari biasanya.
A: “Lha, kenapa gitu? Kok nanggung jawabannya.”
B: “Sebenernya gw agak ragu dengan guna dari pernikahan.”
A: “Lhooo, kenapa?”
B: “Soalnya gw mikir, mayoritas orang bilang salah satu tujuan nikah adalah melanjutkan keturunan.”
A: “Kalau iya memang kenapa?”
B: “Setelah punya anak, anak itu mau dibawa kemana coba baiknya. Mau jadi pengejar cita-cita kita yang belum kesampaian atau kita lepas saja untuk mengejar cita-citanya sendiri? Sekarang kita akan berniat untuk melepas. Tapi nanti kenyataannya pasti gak segampang itu. Lalu akhirnya, anak itu jadi pengejar cita-cita kita deh.”
A sudah terdiam dan jadi memasang wajah berpikir :p.

Aku yang mendengar saat itu jadi bingung. Memang benar ya pikiran si B itu?

Apa yang Kamu Harapkan?

Apa yang kamu harapkan dari sebuah persahabatan? Apakah memang murni sebuah persahabatan? Atau ada hal lain yang kamu harapkan dari sahabatmu? Mari sedikit membahas hal ini. Saat ini pukul lima dini hari dan aku sedang terlalu lelah untuk belajar :( dan aku merasa harus menuangkan pikiran ini di suatu tempat yang tidak terlalu umum.

Well, sekarang pikirkan tentang sahabat-sahabat kalian. Ingat-ingat segala hal yang pernah kalian lakukan bersama. Bisakah kalian menyebutkan minimal satu hal yang telah kalian lakukan untuk mereka? :-/ Aku sesungguhnya tidak bisa karena aku tidak bisa membedakan antara hal yang aku berikan semata-mata untuk mereka dan hal yang aku lakukan untuk kami semua. Setelah itu, pikirkan, apakah kalian pernah mendapatkan sesuata yang kalian harapkan dari mereka?

Aku diajari oleh kakakku bahwa dalam persahabatan tidak ada hal yang memang dinantikan. Segalanya datang begitu saja dan segalanya dilakukan dengan spontan. Tidak butuh rencana dalam persahabatan. Tidak ada target dalam persahabatan. Itu adalah pelajaran yang aku tangkap dari kakakku, entah benar atau salah aku mengartikannya.

Namun bagaimana dengan versiku? Aku percaya sesunguhnya ada hal yang bisa kita harapkan dari sahabat kita. Setiap orang punya hak untuk berharap dan menggantungkannya pada siapapun. Lalu orang yang digantungkan juga memiliki hak untuk menolak.

Aku bukan orang yang mudah bersosialisasi, itu fakta. Terlalu banyak pertimbangan dan perhitungan dalam diriku untuk bersosialisasi. Tapi itu tidak berarti aku tidak pernah mencoba bersosialisasi. Tapi kegiatan bersosialisasi bagiku adalah racun yang teramat sangat beracun, entah kenapa. Pasti banyak orang yang tidak setuju dengan pernyataanku tadi :p. Jadi, ketika aku telah melakukan sosialisasi, sebuah kegiatan yang butuh perjuangan, aku merasa aku boleh mengharapkan sesuatu setelahnya.

Namun, apa jadinya ketika hal yang kamu harapkan tidak ada? Hal ini sesungguhnya pernah dipertanyakan oleh kakak kelasku. Saat itu aku sedang dalam kegiatan wawancara untuk menjadi anggota himpunan. Aku ditanya “Apa yang akan kamu lakukan jika segala hal yang kamu harapkan tidak ada?” Jawabanku spontan dan tegas, yaitu “Menciptakan agar jadi ada Kak. Karena orangnya banyak, pasti mungkin untuk menciptakan sesuatu yang tadinya tidak ada.” Ternyata tidak semudah itu.

Kali ini, aku dihadapkan pada fakta APA YANG AKU HARAPKAN TIDAK ADA, namun bukan di himpunan. Mengatakan bahwa hal-hal yang kuharapkan tidak ada tidak berarti aku tidak mendapat apa-apa. Aku jelas mendapatkan sesuatu, aku yakin akan hal itu. Kembali ke jawabanku ketika wawancara. Harusnya aku mencoba untuk menciptakannya. Namun, entah kenapa aku merasa hanya aku yang merasa masih ada yang kurang dari kehidupan persahabatanku. Jadi, kendalaku saat ini adalah kekurangan orang.

Ada yang pernah bilang padaku, segala hal itu ada waktunya. Maksudnya, di usia kamu yang sekarang, belum waktunya untuk membuat ada hal yang tidak ada jika kamu sendirian. Kalau yang kamu cari tidak ada di tempat itu, cari lagi di tempat lain dan tinggalkan tempat itu. Saat berbicara tentang hal ini, konteks pembicaraannya bukan tentang sahabat. Namun, apakah hal ini dapat diterapkan dalam persahabatan?

Ini Kekecewaan Seorang Guru

Hari ini, seorang guru berkeluh kesah pada dirinya sendiri

Layakkah aku menjadi guru?
Apakah aku memang seorang guru sejati?
Mengapa aku masih ada untuk mengajar mereka?

Dari 4 murid kuajar,
aku kecewa pada semuanya..aku marah pada salah satu..aku lelah pada salah satu lainnya..aku mulai putus asa pada salah satu lainnya..aku merasa gerah dengan pujian dari yang satunya

Siapa yang salah??? Harus diputuskan siapa yang salah, atau aku akan pergi

Murid pertama kemarin bercerita tentang kesanggupannya tanpaku…
lalu hari ini aku tidak melihatnya…
malah aku menyaksikan ketergantungannya padaku…
“Sang Guru telah terhina”

Murid kedua tidak mengetahui hal yang seharusnya sudah ia ketahui…
membuatku lelah untuk mengulang-ulang terus…
“Sang Guru kecewa”

Murid ketiga tidak memiliki keprcayaan diri untuk unjuk gigi…
sampai kapan ia bersembunyi…
kapan dia akan tujukkan pada dunia bahwa ia muridku…
“Sang Guru mulai bosan”

Murid keempat begitu senang memuji…
membuat aku terbebani…
membuat aku merasa berdosa dan nista jika melakukan kesalahan…
“Sang Guru tertekan”

Demi kepentingan dan keselamatan sang guru, malaikat menyarankan padanya untuk menyudahi ini semua
Menutup ceritanya dengan 4 murid ini sampai di sini saja dan mencari murid lain
Namun Sang Guru masih ingin bertahan

Kudoakan semoga ia berhasil, karena ia juga guru dan pelitaku

N.G.

Quote of the post: Mengerti adalah sanggup menjelaskan kepada orang lain (Dosen Teori Graf, Nana Nawawi Gaos).

Sahabat yang satu ini bukanlah sahabat yang mudah dijadikan sahabat. Kadang, aku merasa apa yang aku dapat dari persahabatanku dengannya tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan untuk menjadi sahabatnya. Namun, kakakku berkata, “Dalam persahabatan tidak ada kata tidak mendapat karena memang sesungguhnya tidak ada pemberian yang sengaja diberi, namun semuanya dilakukan dari hati tanpa rencana.” Perkataan ini membuatku yakin sampai saat ini untuk tetap bersahabat dengannya.

N.G. dapat digambarkan dengan satu kata, yaitu rapih. Namun, beberapa hari lalu aku membaca catatan teman-teman N.G. kepadanya. Salah satu pesan berisi satu hal yang paling tepat menggambarkan N.G.. Pada catatan tersebut tertulis ’simple, but have to be perfect’ dan kurasa itu adalah penggambaran paling tepat untuk N.G.. Karena kerapihannya, kini aku mencoba menjadi orang yang rapih juga.

Sesungguhnya, kami sering berbincang-bincang belum terlalu lama. Namun, aku merasa ia telah menganggap aku teman dekatnya. Ia mempercayakan banyak hal padaku dan ia membagi banyak cerita kepadaku. Kadang aku merasa tidak siap untuk dianggap sahabat oleh seseorang secepat itu. Kenapa? Karena aku selalu percaya, hal yang datang dengan cepat akan pergi dengan cepat. Aku takut persahabatan ini akan pergi dengan cepat secepat datangnya.

Banyak orang mengatakan kami berdua mirip. Menurut kami, orang-orang berkata demikian hanya karena kami sering bersama-sama sepanjang hari. Sebelum ia sekelas denganku, ia sekelas dengan teman kami yang lainnya dan mereka sering bersama-sama sepanjang hari. Lalu, banyak orang sering tertukar antara mereka berdua. Sampai sekarang sesungguhnya masih banyak juga orang yang tertukar antara mereka berdua. Hal paling berkesan di hatiku tentang banyaknya orang menganggap kami mirip adalah ketika N.G. berkata “Dulu gw juga ada Ran orang yang dibilang mirip gw. Jangan-jangan gw tuh selalu milih teman dekat berdasar kemiripan wajah ya Ran?” Aku terdiam ketika ia berkat demikian karena aku menyimpulakan ia telah menganggap aku teman dekatnya.

Kini, kami sering kemana-mana bertiga, aku, N.G., dan satu teman kami yang barusan kubahas. Sebutlah nama teman kami tersebut adalah H. Seperti yang aku katakan tadi, N.G. dan H sudah cukup dekat dari dahulu. Mari membaca sedikit ceritaku tentang perasaanku bersama mereka. Satu kata yang menurutku tepat untuk kugunakan adalah BERAT. Sesungguhnya berada di antara mereka terasa berat. Aku merasa masuk ke larutan yang telah larut sempurna. Namun, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Haruskah kuturuti sedikit rasa berat hati ini dan menyingkir dari mereka berdua, atau kulawan dan kucoba untuk menyingkarkan rasa ini?

Kembali ke tokoh utama dalam cerita ini, N.G., ia orang yang sedikit berbeda denganku. Aku begitu percaya bahwa setiap manusia bisa jika dirinya berusaha dalam bidang apapun. Sedangkan N.G. tidak demikian. Ia mudah menyerah menghadapi berbagai problem. Kadang aku merasa bangga jika aku sanggup menjadi solusi akan problem teman-temanku. Namun, kini aku merasa lelah. Aku ingin aku dan teman-temanku saling menjadi solusi satu sama lain.

Di samping segala perasaan berat yang kurasakan dalam persahabatan kami, aku juga merasa senang dengan persahabatan ini. Bersamanya, aku banyak membicarakan hal-hal yang tidak pernah kubicarakan dengan orang lain karena ada keyakinan di antara kami bahwa hal ini tidak akan tersebar ke orang lain. Misalnya, aku dan N.G. saling berbagi cerita tentang teman dekat kami yang lainnya. Aku merasa N.G. percaya bahwa aku tidak akan mengadu pada teman kami tersebut dan aku pun meyakini hal yang sama. Aku pun memiliki keyakinan, N.G. tidak akan pernah menjatuhkan aku di depan teman-temanku yang lainnya.

Hal-hal yang cukup signifikan tentang dirinya di dalam pikiranku:
Ketegasan ia di hadapan orang lain yang berubah menjadi kebimbangan di hadapanku.
Keenganan ia untuk menghinaku jika aku berbuat hal salah yang membuat aku membatin “ayo hina aku untuk mengingatkanku bahwa aku tidak sempurna”.